Kegiatan: OJT Koding - Aktivitas Plugged: Otomatisasi Waktu Belajar dengan Google Assistant

Sabtu, 4 Oktober 2025

Kegiatan: OJT Koding - Aktivitas Plugged: Otomatisasi Waktu Belajar dengan Google Assistant
Pagi hari di laboratorium koding terasa hangat dengan semangat para peserta OJT Koding. Hari Sabtu ini, fokus kegiatan kami adalah eksplorasi mendalam pada aktivitas Plugged—praktik koding menggunakan perangkat—khususnya pemanfaatan Kecerdasan Artifisial (KA) untuk efisiensi sehari-hari. Sesi dimulai oleh mentor, pak kus yang memperkenalkan konsep personalization dalam pembelajaran, dan bagaimana KA, seperti yang ada di Google Assistant, bisa menjadi alat bantu yang luar biasa. Tujuannya: membuat jadwal belajar lebih adaptif dan otomatis.

"Bayangkan kalian bisa meminta asisten digital mengatur timer belajar 45 menit, lalu otomatis diikuti dengan break 15 menit, dan diakhiri dengan pengingat untuk materi selanjutnya. Semua itu hanya dengan satu perintah suara," jelas pak kus sambil menunjukkan smartphone-nya. Implementasi 'Rutinitas Belajar Cerdas' Kami beralih ke aktivitas Plugged inti: merancang sebuah "Rutinitas" pada Google Assistant. Rutinitas ini adalah serangkaian aksi yang dipicu oleh satu perintah suara atau waktu tertentu. Analisis Kebutuhan: Kami diminta menganalisis 'kebocoran waktu' saat belajar. Kami sepakat bahwa transisi antara sesi belajar dan istirahat seringkali tidak teratur.

Perancangan Logika (Algoritma KA Sederhana): Kami merumuskan algoritma sederhana yang akan diotomatisasi: Trigger (Pemicu): Perintah suara "Hai Google, mulai sesi koding"

Aksi 1 (Belajar): Set Timer selama 45 menit dengan suara notifikasi yang tenang.

Aksi 2 (Istirahat): Setelah timer selesai, otomatis memutar playlist musik relaksasi dan mengatur timer istirahat 15 menit.

Aksi 3 (Pengingat Lanjutan): Setelah istirahat, memberikan pengumuman: "Waktu istirahat selesai. Jangan lupa buka Modul 3 tentang Machine Learning."

Pengujian Plugged: Kami mengimplementasikan logika ini menggunakan fitur Routines di Google Assistant. Prosesnya melibatkan pengetikan, penyesuaian perintah, dan integrasi dengan aplikasi lain (seperti Spotify untuk musik relaksasi).

Hasilnya sangat memuaskan. Saat salah satu peserta, Andon, mengucapkan pemicu, ponselnya segera mengaktifkan timer dan merangkai aksi berikutnya secara mulus—sebuah demonstrasi nyata tentang bagaimana kecerdasan buatan bisa mengotomatisasi dan mengoptimalkan waktu belajar. Kami telah berhasil mengubah perangkat sederhana menjadi Asisten Belajar Cerdas yang didukung oleh KA. Sesi diakhiri dengan refleksi tentang etika dan potensi risiko penggunaan KA dalam pendidikan, memastikan kami tidak hanya terampil dalam teknologi, tetapi juga bijak sebagai warga masyarakat digital yang literat.